Abu Nawas dan Orang Kaya Kikir

Ditulis dalam Abu Nawas. Tag: . Leave a Comment »

Abu Nawas Merayu Tuhan

Ditulis dalam Abu Nawas. Tag: . Leave a Comment »

Abu Nawas Pengawal Raja

Ditulis dalam Abu Nawas. Tag: . Leave a Comment »

Abu Nawas Dipanggil Khalifah

Ditulis dalam Abu Nawas. Tag: . Leave a Comment »

Abu Nawas Adu Ketangkasan

Ditulis dalam Abu Nawas. Tag: . 1 Komentar »

Abu Nawas Menjadi Penjahit

Ditulis dalam Abu Nawas. Tag: . Leave a Comment »

Yang Lebih Kaya dan Mencintai Fitnah

Ditulis dalam Abu Nawas. Tag: . Leave a Comment »

Abu Nawas Menghitung Kematian

ABU Nawas memang terkenal kecerdikannya. Dari kalangan istana sampai ke desa, tak ada orang yang tak tahu Abu Nawas. Suatu hari Raja Harun hendak mengadakan pesta ulang tahun kerajaan. Baginda ingin rakyatnya juga ikut merayakan dan merasa senang di hari bahagia itu.

Di hari yang telah ditentukan, rakyat dikumpulkan depan balairung istama. Baginda lalu berdiri dan berkata, “Rakyatku tercinta, hari ini kita mengadakan pesta ulang tahun kerajaan. Aku akan memberi hadiah kepada para fakir miskin. Aku juga akan memberikan pengampunan kepada tahanan di penjara, dengan mengurangi hukuman tersebut setengah dari sisa hukumnya,” begitu sabda Baginda Harun Al Rasyid dengan arif.

Kemudian para pengawal membagi-bagikan hadiah tersebut kepada fakir miskin. Usai itu, Raja lalu memanggil para tahanan.

“Sofyan berapa tahun hukumanmu?” tanya Baginda. Sofyan pun menjawab, “Dua tahun Baginda.”

“Sudah berapa tahun yang kamu laksanakan?” tanya Baginda lagi.

“Satu tahun Baginda,” sahutnya.

“Kalau begitu, sisa hukumanmu yang satu tahun aku kurang setengah tahun sehingga hukumanmu tinggal 6 bulan lagi,” tegas Baginda.

Selanjutnya, dipanggillah Ali. “Berapa tahun hukumanmu?” Baginda bertanya.

Dengan nada sedih, Ali menjawab, “Mohon ampun sebelumnya Baginda, hamba dihukum seumur hidup.”

Mendengar jawaban Ali tersebut, Baginda menjadi bingung. Ditengah kebingungannya, beliau teringat dengan Abu Nawas.

“Abu, ini ada masalah mengenai hadiah pengampunan bagi Ali. Dia dihukum seumur hidup sedang aku berjanji akan memberikan pengampunan setengah dari sisa hukumannya, padahal aku tidak tahu sampai umur berapa Ali hidup. Sekarang aku minta nasihatmu bagaimana caranya memberi pengampunan kepada Ali dari sisa hukumannya,” jelas Baginda.

Mendengar hal tersebut, Abu Nawas pun dibuat bingung. Dia berpikir, apa bisa mengurangi umur orang, padahal dia sendiri tidak tahu sampai berapa umurnya. “Hamba minta waktu Baginda!” ujar Abu.

Oleh Baginda, Abu Nawas diberi waktu sehari semalam. “Bila besok kamu tak bisa memberikan jawabannya, kamu akan menggantikan hukuman si Ali,” begitu perintah Baginda.

Sampai di rumah, Abu Nawas pun berpikir keras menemukan pemecahan masalah tersebut. Dia tak bisa tidur memikirkannya. Namun setelah beberapa waktu, tampak Abu Nawas senyum-senyum kelihatan gembira. Abu Nawas lalu masuk ke rumah dan tidur dengan nyenyak.

Pagi-pagi sekali, Abu Nawas telah bangun. Setelah mandi dan sarapan, Abu Nawas pergi menuju istana. “Hamba sudah mendapatkan cara untuk memecahkan masalah si Ali,” jawab Abu Nawas saat menghadap Baginda.

“Kalau memang sudah temukan caranya, cepatlah utarakan kepadaku,” kata Baginda tak sabar.

“Begini Baginda, sebaiknya si Ali berada diluar penjara dan bisa bebas selama satu hari, lalu besoknya dimasukkan kedalam penjara juga selama satu hari. Lusa juga bebas sehari, begitu berlangsung selama umur si Ali.”

“Ehm…he..he..” Baginda Harun tersenyum. “Kamu memang pandai Abu. Kalau begitu kamu juga akan aku beri hadiah, yaitu sekantung keping emas.” Raja Harun lalu memerintahkan pengawalnya agar mengambil sekantung keping emas di tempat penyimpanannya. Lalu diberikan kepada Abu Nawas. (**)

Abu Nawas dan Kambing

Di negeri Persia hiduplah seorang lelaki yang bernama Abdul Hamid Al-Kharizmi, lelaki ini adalah seorang saudagar yang kaya raya di daerahnya, tetapi sayang usia perkawinannya yang sudah mencapai lima tahun tidak juga dikaruniai seorang anak. Pada suatu hari, setelah shalat Ashar di Mesjid ia bernazar, “ya Allah swt. jika engkau mengaruniai aku seorang anak maka akan kusembelih seekor kambing yang memiliki tanduk sebesar jengkal manusia”. Setelah ia pulang dari mesjid, istrinya yang bernama Nazariah berteriak dari jendela rumahnya:

Nazariah : “hai, hoi, cuit-cuit, suamiku tercinta, aku sayang kepadamu, ayo kemari, cepat aku ggak sabaran lagi, kepingen ni, cepat, aku kepengen ngomong”

Abdul heran dengan sikap istrinya seperti itu, dan langsung cepat-cepat dia masuk kerumah dengan penasaran sebesar gunung.

Abdul : h, h, h, h, h, h, nafasnya kecapaian berlari dari jalan menuju kerumahnya “ada apa istriku yang
cantik?”
Nazariah : “aku hamil kang mas”
Abdul : “kamu hamil?, cihui, hui, “

Sambil meloncat-loncat kegirangan di atas tempat tidur, Plok, dia terperosok ke dalam tempat tidurnya yang terbuat dari papan itu.

Tidak lama setelah kejadian itu istrinya melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat cantik dan lucu. Dan diberi nama Sukawati

Pak lurah : “Anak anda kan laki-laki, kenapa diberi nama Sukawati?”
Abdul : “dikarenakan anak saya laki-lakilah makanya saya beri nama Sukawati, jika saya beri nama
Sukawan dia disangka homo.
Abdul : “Hai Malik (ajudannya) cepat kamu cari kambing yang mempunyai tanduk sebesar jengkal manusia”.
Malik : “tanduk sebesar jengkal manusia?” ia heran “mau cari dimana tuan?”
Abdul : “cari di dalam hidungmu dongol, ya cari diseluruh ke seluruh negeri ini”

Beberapa hari kemudian.

Malik : “Tuan Abdul, saya sudah cari kemana-mana tetapi saya tidak menemukan kambing yang punya
tanduk sejengkal manusia”
Abdul : “Bagaimana kalau kita membuat sayembara, cepat buat pengumuman ke seluruh negeri bahwa kita
membutuhkan seekor kambing yang memiliki tanduk sejengkal manusia untuk disembelih”

Menuruti perintah tuannya, Malik segera menempelkan pengumunan di seluruh negeri itu, dan orang-orang yang memiliki kambing yang bertandukpun datang kerumah Abdul, seperti pengawas Pemilu, Abdul memeriksa tanduk kambing yang dibawa tersebut.

Abdul : “hai tuan anda jangan menipu saya, kambing ini tidak memiliki tanduk sebesar jengkal manusia”
kemudian ia pergi ke kambing lain “jangan main-main tuan, ini tanduk kambing palsu”.

Setelah sekian lama menyeleksi tanduk kambing yang dibawa oleh kontestan sayembara, ternyata tidak satupun yang sesuai dengan nazarnya kepada Allah swt. Abdul hampir putus asa, tiba-tiba.

Abdul : “aha, saya teh ada ide, segera kamu ke ibu kota dan jumpai pak Abu dan katakan saya ingin
meminta tolong masalah saya.

Malik segera menuruti perintah tuannya, dan segera menuju ibu kota dan menjumpai Pak Abu yang punya nama lengkap Abu Nawas.

Malik : “Pak Abu, begini ceritanya, cus, cues, ces. Pak Abu bisa bantu tuan saya”
Pak Abu : “katakan pada tuan kamu, bawa kambing yang punya tanduk dan bayinya tersebut besok pagi ke mesjid Fathun Qarib.

Malik segera pulang dan memberitahukan kepada tuannya bahwa Pak Abu bisa membantu dan cus, cues, ces, sstsst,

Di esok pagi Abdul menjumpai Pak Abu dengan seekor kambing yang punya tanduk dan anaknya yang masih bayi tersebut, beserta istrinya.

Pak Abu : “Baiklah tuan Abdul, jika nazarmua kepada Allah swt. menyembelih kambing yang punya tanduk
sebesar jengkal manusia, sekarang tunjukkan mana kambing yang kau bawa kemari, dan mana anakmu”
Abdul : “ini kambing dan anak saya Pak Abu”

Pak Abu kemudian mengukur tanduk kembing tersebut dengan jengkal anak bayi tersebut dan Pak abu memperlihatkannya ke Abdul

Pak Abu : “sekarang kamu sudah bisa membayar nazarmu kepada Allah swt. karena sudah dapat kambing yang pas”
Abdul : “cihui, uhui, pak Abu memang hebat”, dia meloncat-loncat kegirangan di dalam mesjid setelah melakukan sujud syukur, dan tiba-tiba sleit, dia terpeleset jatuh, karena lantainya baru saja di pel oleh pengurus mesjid itu

Abu Nawas dan Harun Al Rasyid

Abu Nawas adalah seorang yang cerdik dan mempunyai pemikiran yang luas, tetapi perwatakannya sangat melucukan dan menjadi bahan ketawa kepada orang ramai pada masa itu. Beliau sangat disanjungi dan disayangi oleh Khalifah Harun Al-Rashid.

Pada suatu hari Abu Nawas pergi ke pasar untuk berjumpa kawan-kawannya. Keadaan pasar pada pagi itu sibuk dengan orang ramai yang sedang membeli belah. Apabila tiba sahaja di pasar Abu Nawas berkata “Hai kawan-kawanku, aku sangat benci kepada yang hak dan sangat cinta kepada fitnah” dan beliau berkata lagi “Aku sesungguhnya pada hari ini sangat kaya malah lebih kaya daripada Allah”. Orang ramai yang mendengar ucapan Abu Nawas mulai rasa curiga dan menuduh Abu Nawas sudah tidak siuman lagi karana semua orang sangat mencintai kepada perkara yang hak dan membenci kepada fitnah dan sesungguhnya Allah maha kaya dari sekelian makhlukNya.

Orang ramai yang berada disitu telah menangkap Abu Nawas dan membawanya mengadap Khalifah Harun Al-Rashid. Orang ramai memberi tahu Khalifah Harun Al-Rashid tentang ucapan Abu Nawas di pasar tadi, Khalifah sangat marah dengan kata-kata Abu Nawas. Oleh kerana Khalifah adalah seorang pemerintah yang adil, beginda tidak terus menghukum Abu Nawas sehingga beliau benar-benar pasti akan kebenaran kata-kata Abu Nawas. Khalifah bertanya kepada Abu Nawas “Adakah benar kamu mengatakan bahawa kamu sangat membenci kepada yang hak dan mencintai kepada fitnah?”. “Benar wahai Amirul Mukminin” jawab Abu Nawas. Khalifah bertanya lagi “Adakah benar kamu mengatakan bahawa kamu lebih kaya daripada Allah?”. Jawab Abu Nawas “Benar wahai Amirul Mukminin”.

Khalifah Harun Al-Rashid sangat marah kepada Abu Nawas kerana setahunya Abu Nawas adalah seorang yang alim dan sentiasa bertakwa kepada Allah. Khalifah berkata “Apakah yang telah terjadi kepada kamu?. Telah kafirkah kamu kerana sanggup mengucapkan kata-kata tersebut?”. Abu Nawas tersenyum dan berkata “Sabarlah wahai Amirul Mukminin, dengarlah dahulu penjelasan hamba” “Apa yang kamu hendak jelaskan lagi, bukankah kata-kata kamu sudah jelas dan nyata” jawab Khalifah. “Begini wahai Amirul Mukminin” jawab Abu Nawas dan menyambungnya lagi “Aku sering mendengar orang membaca talkin bahawa mati itu adalah hak dan neraka adalah hak, bukankah mati dan neraka sangat dibenci oleh orang ramai” “Saya rasa Amirul Mukminin juga membenci akan mati dan neraka sama seperti saya membencinya” kara Abu Nawas. Khalifah Harun Al-Rashid mengangguk-nganggukkan kepalanya menandakan kebenaran kata-kata Abu Nawas.

“Bagaimana pula dengan kata-kata mu bahwa kamu sangat mencintai kepada fitnah” kata Khalifah. Jawab Abu Nawas “Anak dan Harta boleh membawa kepada fitnah, tidak ada seorang pun yang membenci akan anak dan harta. Khalifah sendiri sangat mencintai anak dan suka mengumpulkan harta”. Khalifah sekali menganggukkan kepalanya sebagai menandakan kebenaran kata-kata Abu Nawas.

Khalifah Harun Al-Rahid bertanya lagi “Terangkan kepada ku bagimana kamu mengatakan bahawa kamu lebih kaya daripada Allah”. Abu Nawas menjawab dengan selamba “Saya mempunyai ramai anak sedangkan Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan”. Orang ramai yang berada disitu berasa lega dan berpuas hati diatas penjelasan Abu Nawas. Mereka pun beredar dari situ untuk meneruskan aktiviti masing-masing.

Khalifah Harun Al-Rashid memberikah hadiah kepada Abu Nawas diatas kebijaksanaannya dan berkata berkata kepada Abu Nawas “Apakah sebenarnya yang menyebabkan kamu mengucapkan kata-kata tersebut di khalayak ramai”. Abu Nawas menjawab bahwa dia ingin berjumpa dengan Amirul Mukminin, hanya dengan cara itu sahajalah dia dapat berjumpa dengan Amirul Mukmini.

Setelah berbual-bual dengan Khalifah Harun Al-Rashid, Abu Nawas memohon diri dan beredar dari situ.

Semua Tentang Huruf “J”

atu hari Sultan merasa sungguh “boring n bete abis”, jadi dia
Tanya Bendahara, “Bendahara, siapa paling pandai saat ini?”
“Abunawas” jawab Bendahara.
Sultan pun manggil Abunawas n baginda bertitah :
“Kalau kamu pandai, coba buat satu cerita seratus kata tapi setiap kata mesti dimulai dengan huruf ‘J’. Terperanjat Abunawas, tapi setelah berfikir, diapun mulai bercerita:

Jeng Juminten janda judes, jelek jerawatan, jari jempolnya jorok. Jeng juminten jajal jualan jamu jarak jauh Jogya-Jakarta. Jamu
jagoannya: jamu jahe. “Jamu-jamuuu…, jamu jahe-jamu jaheee…!”
Juminten jerit-jerit jajakan jamunya, jelajahi jalanan.

Jariknya jatuh, Juminten jatuh jumpalitan. Jeng Juminten
jerit-jerit: “Jarikku jatuh, jarikku jatuh…” Juminten jengkel,
jualan jamunya jungkir-jungkiran, jadi jemu juga.

Juminten jumpa Jack, jejaka Jawa jomblo, juragan jengkol, jantan,
juara judo. Jantungnya Jeng Juminten janda judes jadi jedag-jedug.
Juminten janji jera jualan jamu, jadi julietnya Jack.

Johny justru jadi jelous Juminten jadi juliet-nya Jack. Johny juga
jejaka jomblo, jalang, juga jangkung. Julukannya, Johny Jago Joget.
“Jieehhh, Jack jejaka Jawa, Jum?” joke-nya Johny. Jakunnya jadi
jungkat-jungkit jelalatan jenguk Juminten. “Jangan jealous, John…”
jawab Juminten.

Jumat, Johny jambret, jagoannya jembatan Joglo jarinya jawil-jawil
jerawatnya Juminten. Juminten jerit-jerit: “Jack, Jack, Johny jahil, jawil-jawil!!!” Jack jumping-in jalan, jembatan juga jemuran. Jack jegal Johny, Jebr eeet…, Jack jotos Johny. Jidatnya Johny jenong, jadi jontor juga jendol… jeleekk. “John, jangan jahilin
Juminten…!” jerit Jack. Jantungnya Johny jedot-jedotan, “Janji,
Jack, janji… Johnny jera,” jawab Johny. Jack jadikan Johny join
jualan jajan jejer Juminten.

Jhony jadi jongosnya Jack-Juminten, jagain jongko, jualan jus
jengkol j ajanan jurumudi jurusan Jogja-Jombang, julukannya Jus
Jengkol Johny “Jolly-jolly Jumper.” Jumpalagi, jek……..!!!

Jeringatan : Jangan joba-joba jikin jerita jayak jini jagi ja…!!!
JUSAH…!!!

Abu Nawas dan Musafir

Alkisah dahulu kala, ada seorang musafir yang sedang berjalan di tengah pasar. Sang musafir merasa sangat lapar, namun hanya sebungkus nasi putih yang ia miliki saat itu.

Akhirnya, ditemuilah seorang penjual sate di pasar tersebut. Ia berhenti sejenak. Ia merasakan bahwa asap yang ditimbulkan oleh pembakaran sate tersebut sangatlah menggoda selera makannya. Dikeluarkanlah sebungkus nasi putih yang dimilikinya itu. Makanlah ia ditengah kepulan asap sate.

Setelah sang musafir menyelesaikan makannya, tiba-tiba si penjual sate itu meminta uang kepadanya, karena ia sudah makan dengan asap sate dari dagangan si penjual sate.
Musafir :”Mengapa saya harus membayar?”
Penjual :”Ya, karna kamu telah makan dengan asap sate
saya”
Musafir :”Tapi Anda kan tidak menjual asap sate itu”
Penjual :”Tapi Anda telah menikmati asap sate saya”

Disaat mereka sedang berdebat, melintaslah si Abu Nawas yang sudah terkenal cerdik dalam menyelesaikan permasalahan seperti ini. Diceritakanlah kejadian tersebut. Setelah berfikir sejenak tiba-tiba Abu Nawas mengeluarkan sejumlah uang yang diminta si penjual sate. Kemudian ia mengibas-ngibaskan uang tersebut kepada si penjual sate sampai tercium bau uang itu. Kemudian ia berkata :
Abu Nawas :”Sudah Anda cium bau uang ini?”
Penjual :”Ya, sudah”
Abu Nawas :”Kalau begitu Anda boleh pergi wahai musafir”
Penjual :”Kenapa begitu?”
Abu Nawas :”Karna ia hanya menikmati asap sate Anda, maka
iapun hanya membayar Anda dengan bau dari uang
yang Anda minta itu.”

Abu Nawas berlalu begitu saja…

Pesan Bagi Seorang Hakim

Siapakah Abu Nawas ? Tokoh yang dianggap badut namun juga dianggap ulama besar ini— sufi, tokoh su­per lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz meninggal pada tahun 819 M di Baghdad. Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang pasir. Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran orang Arab, la juga pandai bersyair, berpantun dan menyanyi. la sempat pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad,

Mari kita mulai kisah penggeli haji ini. Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.

Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sul­tan (Raja) untuk mengubur jenazah bapaknya. itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo’akannya, Maka Sul­tan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya.

Namun…demi mendengar rencana sang Sultan.

Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.

Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari ba­tang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapak­nya menuju rumahnya. Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.

Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.

Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh bapaknya.

Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas.

“Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana.” kata wazir utusan Sultan.

“Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya.” jawab Abu Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.

“Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu.”

“Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar”‘ kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.

Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat ke­lakuan Abu Nawas.

“Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sul­tan?” kata wazir

“Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau.” kata Abu Nawas.

“Apa maksudnya Abu Nawas?” tanya wazir dengan rasa penasaran.

“Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada raja­mu.” sergah Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.

Si wazir segera menyingkir dari halaman rurnah Abu Nawas. Mereka laporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.

Dengan geram Sultan berkata,”Kalian bodoh se­mua, hanya menghadapkan Abu Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kemari dengan suka rela atau pun terpaksa.”

Si wazir segera mengajak bebeerapa prajurit ista­na. Dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan di hadapan raja.

Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkahnya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.

“Abu Nawas bersikaplah sopan!” tegur Baginda.

“Ya Baginda, tahukah Anda…..?”

“Apa Abu Nawas…?”

“Baginda…terasi itu asalnya dari udang !”
“Kurang ajar kau menghinaku Nawas !”
“Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?”        

Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera member! perintah kepada  para pengawalnya.
“Hajar dia! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali”
Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya.dipukuli tentara yang bertubuh kekar”

Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana.
Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.

“Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu?Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?”

“Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepada tadi?”

“lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?”

“Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!”

“Wan ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang
harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima ha­diah dari Baginda”

Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali.Tentu saja orang itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap, Abu Nawas
telah menjadi gila.

Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya.

Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid.

“Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang telah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda.”

Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya,”Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan?”

Berkata Abu Nawas,”Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pu­kulan itu.”

“Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang itu?” tanya Baginda.

“Tuanku,”kata Abu Nawas.”Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah mengadakan perjanjian bahwa , jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk saya. Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya.”

“Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjian seperti itu dengan Abu Nawas?” tanya Baginda.

“Benar Tuanku,”jawab penunggu pintu gerbang. “Tapi ……hamba tiada mengira jika Baginda memberikan

hadiah pukulan.”

“Hahahahaha…….!Dasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!” sahut Baginda.”Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka memeras orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan memecat dan menghukum kamu!”

“Ampun Tuanku,”sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar.

Abu Nawas berkata/Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan Tuanku. Padahal besok namba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba.”

Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, “Hahahaha…jangan kuatir Abu Nawas.”

Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong uang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira.

Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan.

Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengada­kan rapat dengan para menterinya.

“Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai kadi?”

Wazir atau perdana menteri berkata, “Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi.”

Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pen dapat yang sama.

“Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi.”

“Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja.”

Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad. Konon dalam suatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak lama berambisi menjadi k’adi. la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala la mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda menyetujuinya.

Begitu mendengar Polan:diangkat menjadi kadi ma­ka Abu Nawas mengucap syukur kepada Tuhan. “Alhamdulillah….,…aku telah terlepas dari balak yang mengerikan. Tapi….sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja.”

Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini:

Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggil Abu Nawas untuk menghadap. AbuNawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai.

Berkata bapaknya,”Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku

 

Abu Nawas segera rnenuruti permintaan bapaknya. la cium telinga kanan bapaknya, berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.

“Bagamaina anakku? Sudah kau cium?”

“Benar Bapak!”   

“Ceritakankan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku ini.”

“Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi, yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?”

“Hai anakku Abu Nawas tahukah apa bisa terjadi begini?”

“Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini,”

Berkata Syeikh Maulana. Pada sutu hari dating dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang
seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang: lagi karena aku tak suka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jika kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan mengalami hal yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidakpilih sebagai Kadi oleh Sultan Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi.”

Nah, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara. Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.

Sumber: http://kasato.multiply.com/journal