”Dan, jika orang yang berutang itu dalam kesukaran, berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan, menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS Albaqarah [2]: 280).
Pernahkah berutang? Entah sesekali atau dua kali atau bahkan kerap kali sehingga ingin menangis rasanya bila membayangkannya. Atau, bagi yang belum, mungkin pernah terlintas atau punya keinginan memenuhi sebagian standar kehidupan melalui utang. Misal, memiliki ini dan itu dengan bantuan kartu kredit, yang notabene utang juga. Ada sebagian orang yang berutang karena tuntutan gaya hidup. Dan, ada sebagian orang yang berutang karena memang terdesak kebutuhan makan hingga utang adalah solusi paling ujung yang akhirnya harus mereka tempuh.
Coba renungkan, di manakah posisi kita? Memiliki utang dan tidak memiliki utang tentu lain rasa dan bedanya. Apalagi, bila kita berutang karena terdesak kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan. Andai kita tidak berada dalam posisi seperti itu. Dan, selain kita harus mensyukuri, ada satu hal lagi, yaitu kita harus empati. Empati bila ada seorang teman atau tetangga yang tiba-tiba mengetuk pintu rumah kita dan membutuhkan dana serta memberikan janji kapan akan membayar utang itu.
Empati itu juga berarti kita harus tahu benar bahwa yang akan dipinjami uang itu adalah orang yang benar-benar terdesak kebutuhannya. Bahwa, kita juga akan berani tegas untuk menagihnya pada saat yang tepat. Karena, kadang ketidaktegasan dan ketidakenakan hati membuat hubungan menjadi tidak berlangsung dengan baik setelah itu.
Bila ternyata empati kita masih kurang tepat karena yang kita pinjami uang ternyata orang yang tidak amanah, mungkin yang harus kita lakukan hanyalah berbesar hati. Selain itu, percaya bahwa ini adalah pelajaran untuk kita dan mungkin kita bisa membagi pelajaran itu untuk orang lain agar tidak terkena akibat seperti kita.
Tapi, yang sebaik-baiknya yang harus kita lakukan adalah membuka telinga lebar-lebar. Mata hati kita kuak sehingga terbuka. Adakah orang di sekeliling kita yang kelaparan yang malu untuk meminjam pada tetangganya sehingga harus berpuasa demi untuk menekan rasa laparnya? Untuk yang satu ini, kita wajib bersedekah dan membagi kekenyangan kita pada mereka. Wallahu a’lam.
sumber: republika










Juni 25, 2008 pukul 5:04 pm
Assalamu’alaikum war wab
Sebelumnya, saya ucapkan salah kenal. Semoga kunjungan saya tergolong salah satu bentuk silaturahmi yang bernilai ibadah di sisi-Nya. AMin.
Saya hanya ingin bertanya, adakah hubungan khusus antara situs ini dengan koran Republika? Terima kasih.
Semoga Allah selalu bermurah hati melimpahkan petunjuk-Nya pada kita semua. AMin.
Wassalamu’alaikum war wab
.::rashidsatari
Juni 26, 2008 pukul 2:28 pm
Dear Mr. Rashid Satari. Blog ini tidak ada hubungan dengan republika. Namun, demi syiarnya dakwah Islam di muka bumi ini, kami ingin sampaikan dakwah ini. Namun, kami tetap mencantumkan sumbernya. Terima kasih