Suatu hari di pasar, khalifah Harun ar Rasyid begitu geram kepada Abu Nawas yang menjelek-jelekkannya di muka umum. Ketika berpidato di pasar, Abu Nawas mengatakan bahwa khalifah lebih kaya dari Allah dan sangat mencintai fitnah. Ramailah pasar. Protes menghujaninya, tetapi dia tenang-tenang saja. Kemudian dia ditangkap tentara kerajaan. Dengan murka, sang khalifah menginterogasinya.
“Apakah benar kamu yang mengatakan itu di pasar?”
Abu Nawas membenarkannya, lalu khalifah memrintahkan punggawanya untuk menggantung Abu Nawas besok pagi. Sebelum diseret pengawal, Abu Nawas meminta izin khalifah untuk menjelaskan maksud ucapannya.
“Tenang baginda, beri saya kesempatan untuk menjelaskan apa maksud perkataan saya,” kata Abu Nawas.
Abu Nawas menjelaskan apa yang dimaksud khalifah lebih kaya dari Allah, karena khalifah memiliki amak sedangkan Allah tidak. Adapun khalifah sangat mencintai fitnah maksudnya adalah khalifah sangat mencintai istri dan anak-anaknya, padahal mereka bisa menjadi fitnah baginya
Khalifah geleng-geleng kepala sambil bertanya, “Tapi kenapa kamu berteriak-teriak di pasar? Yang tak paham perkataanmu khan bisa marah?”
Abu Nawas menjawab, kalau masyarakat marah ia baru bisa dipanggil khalifah.
“Kalau aku sudah memanggil, memangnya kenapa?” tanya khalifah
Abu Nawas menjawab, “Ya biar bisa dikasih hadiah, baginda” jawabnya sambil tersenyum. Lalu sekantung uang dinar pun diberikan kepadanya.









